Rabu, 13 Juni 2012

PASAR OLIGOPOLI


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pasar merupakan tulang punggung perekonomian masyakat, baik masyarakat yang berada dikalangan kelas bawah ataupun masyarakat yang berada di kalangan kelas atas. Pasar juga merupakan proses hubungan timbal antara penjual dan pembeli untuk mencapai kesepakatan harga dan jumlah suatu barang/jasa yang diperjualbelikan. Semua unsur yang berkaitan dengan hal ekonomi berada di pasar oligopoli mulai dari unsur produksi, distribusi, ataupun unsur konsumsi.
Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan permainan pasar, dimana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.
Praktek oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk ke dalam pasar dan juga perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal di bawah tingkat maksimum dengan menetapkan harga jual, sehingga menyebabkan kompetisi harga diantara pelaku usaha yang melakukan praktek oligopoli menjadi tidak ada.
Dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1999, oligopoli dikelompokkan ke dalam kategori perjanjian yang dilarang, padahal umumnya oligopoli terjadi melalui keterkaitan reaksi, khususnya pada barang-barang yang bersifat homogen atau identik dengan kartel (kelompok produsen independen yang bertujuan menetapkan harga untuk membatasi suplai dan kompetisi), sehingga ketentuan yang mengatur mengenai oligopoli ini sebaiknya digabung dengan ketentuan yang mengatur mengenai kartel.
1.2  Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang yang dikemukakan, maka penulis merumuskan masalah sebagai beikut :
1.      Bagaimana karakteristik pasar oligopoli ?
2.      Apa saja model-model pasar oligopoli ?
3.      Apa saja jenis-jenis pasar oligopoli ?
4.      Bagaimana hubungan antara perusahaan-perusahaan dalam pasar oligopoli ?
1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan adalah arah, jurusan dan maksud. Karena itu setiap penulisan mempunyai tujuan, karena dapat memberikan arah dan memperjelas objek yang di tulis. Sejalan dengan permasalahan diatas penulis mempunyai tujuan sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui karakteristik pasar oligopoli.
2.      Untuk mengetahui apa saja model-model pasar oligopoli.
3.      Untuk mengetahui jenis-jenis pasar oligopoli.
4.      Untuk mengetahui apa saja hubungan antara perushaan-perusahaan dalam pasar oligopoli.
1.4  Manfaat Penulisan
Dalam penulisan ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1.      Meningkatkan kemampuan penulis dalam menganalisis deskridtif dan kurva.
2.      Untuk menambah ilmu pengetahuan tentang pasar oligopoli.
           
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pasar Oligopoli
Istilah Oligopoli berasal dari bahasa Yunani, yaitu: Oligos Polein  yang berarti: yang menjual sedikit. Hal ini disebabkan karena jumlah penjual dalam jenis pasar Oligopoli memang tidak terlalu banyak. Paling tidak terdapat antara 10-15 penjual. Bahkan ada yang benar-benar hanya terdiri dari 2 penjual yang disebut dengan pasar duopoli. Melihat sedikitnya jumlah penjual pada pasar Oligopoli, persaingan yang terjadi di dalamnya sangatlah ketat. Sebuah perusahaan dalam pasar oligopoli akan langsung melakukan reaksi bila perusahaan pesaingnya melakukan tindakan yang mempengaruhi pasar.
Pasar merupakan proses hubungan timbal balik antara penjual dan pembeli untuk mencapai kesepakatan harga dan jumlah suatu barang / jasa yang diperjualbelikan. Prathama Rahandja berpendapat (2010:225) “Pasar oligopoly adalah pasar (industry) yang terdiri atas hanya sedikit perusahaan (produsen). Setiap perusahaan akan memiliki kekuatan cukup besar untuk mempengaruhi harga pasar.
Pasar Oligopoli merupakan suatu bentuk pasar yang terdapat beberapa penjual dimana salah satu atau beberapa penjual bertindak sebagai pemilik pasar terbesar ( price leader ). Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh. Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.
            Di Indonesia pasar oligopoli dapat dengan mudah kita jumpai, misalnya pada pasar semen, pasar layanan operator selular, indusrti kertas, pasar otomotif serta pasar yang bergerak dalam industri berat.
            Dalam oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sendiri sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, dimana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung pada tindak-tanduk pesaing mereka, sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga dan sebagainya dapat dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.
Praktek oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk ke dalam pasar. Perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal dibawah tingkat maksimum dengan menetapkan harga jual terbatas
2.2 Faktor-faktor Penyebab Terbentuknya Pasar Oligopoli
      Ada dua faktor penting yang menyebabkan terbentuknya pasar oligopoly yaitu sebagai berikut :
·         Efisiensi Skala Besar
Dalam dunia nyata, perushaan-perusahaan yang bergerak dalam industri mobil, semen, kertas, pupuk dan peralatan mesin, umumnya berstruktur oligopoli. Teknologi padat modal (capital intensive) yang dibutuhkan dalam proses produksi menyebabkan efisiensi (biaya rata-rata minimum) baru tercapai jika produksi mobil minimal 50.000 sampai 100.000 unit per tahun. Bila perusahaan memproduksi tiga jenis mobil saja. Output minimal seluruhnya antara 200.000 -300.000 unit per tahun. Selanjutnya bila biaya produksi per mobil puluhan juta rupiah, maka danan yang dibutuhkan untuk memproduksi sebanyak ratusan miliyar rupiah per tahun. Jika dihitung dengan biaya investasi awal, maka perusahaan yang ingin memasuki industry mobil harus menyiapkan dan triliun rupiah.
Keadaan tersebut merupakan hambatan untuk masuk (barriers to entry) bagi perusahaan-perusahaan pesaing. Tidak mengherankan jika dalam pasar oligopoly hanya terdapat sedikit produsen.


·         Kompleksitas Manajemen
Berbeda dengan struktur pasar lainnya (persaingan sempurna, monopoli, dan persaingan monopolistik),  struktur pasar oligopoly ditandai dengan kompetisi harga dan non harga. Perusahaan juga harus cermat memperhitungkan setiap keputusan agar tidak menimbulkan reaksi yang merugikan dari perusahaan pesaing. Karena itu dalam industry oligopoli, kemampuan keuangan yang besar saja tidak cukup sebagai modal untuk bertahan dalam industri. Perusahaan juga harus memiliki kemampuan manajemen yang sangat baik agar mampu bertahan dalam struktur industri yang persaingannya begitu kompleks. Tidak banyak perusahaan yang memiliki kemampuan tersebut, sehingga dalam pasar oligopoli akhirnya hanya terdapat sedikit produsen.

2.3 Kelebihan dan Kekurangan Pasar Oligopoli
2.3.1 Kelebihan Pasar Oligopoli
Kelebihan pasar oligopoli adalah mendorong perkembangan teknologi dan inovasi.
struktur pasar ini yang paling memberikan dorongan terbesar dalam mengembangkan teknologi dan inovasi. Hal ini dikarenakan mendapat untung yang lebih dari normal dan menekankan persaingan dimana sangat membahayakan kedudukan perusahaan dalam industri. Keuntungan yang lebih disebabkan perusahaan baru sulit untuk memasuki pasar ini, sehingga keuntungan lebih normal berlangsung dalam jangka panjang dan perusahaan memiliki dana yang cukup untuk kepentingan melakukan riset dalam mengembangkah teknologi serta inovasi.
         Selain itu melakukan pengembangan teknologi dan melakukan persaingan dalam pasar ini, sebab perusahaan tidak mungkin melakukan persaingan dalam harga. Terdapat sedikit penjual dibutuhkan biaya investasi yang besar, jumlah penjual yang sedikit membuat penjual dapat mengendalikan harga dalam tingkat tertentu, dan bila terjadi perang harga, konsumen akan diuntungkan serta adanya efisiensi dalam menjalankan produksi dan persaingan diantara perusahaan akan memberikan keuntungan bagi konsumen dalam hal harga dan kualitas barang.


2.3.2 Kekurangan Pasar Oligopoli
         Kekurangan dari pasar ini adalah tidak adanya efisiensi dalam menggunakan sumber-sumber daya. Efisiensi penggunaan sumber daya akan tercapai apabila ongkos marjinal sama dengan harga pada umumnya, keadaan ini tidak di capai pada pasar oligopoli. Tetapi jika di pandang dari sudut skala ekonomis yang mungkin di peroleh, terdapat kemungkinan bahwa perusahaan oligopoli akan memproduksi barang dengan ongkos yang lebih rendah daripada perusahaan yang ada dalam persaingan sempurna.
         Terdapat rintangan yang kuat untuk dapat masuk ke pasar oligopoly, akan terjadi perang harga dan produsen dapat melakukan kerja sama (kartel) yang pada akhirnya akan merugikan konsumen. Selain itu juga di butuhkan investasi dan modal yang besar untuk memasuki pasar, karena adanya skala ekonomis yang telah di ciptakan perusahaan sehingga sulit bagi pesaing baru untuk masuk ke dalam pasart, apabila terdapat perusahaan yang memiliki hak paten atas sebuah produk, maka tidak memungkinkan bagi perusahaan lain untuk memproduksi barang sejenis. Pelanggan yang telah memiliki pelanggan setia akan menyulitkan perusahaan lain untuk menyainginya, adanya hambatan jkangka panjang seperti pemberian hak waralaba oleh pemerintah sehingga perusahaan lain tidak memasuki pasar, adanya kemungkinan terjadinya kolusi antara perusahaan di pasar yang dapat membentuk monopoli atau kartel yang merugikan masyarakat.
                       
2.4 Upaya untuk Mengatasi Pasar Oligopoli
            Untuk mengatasi dampak negatif pasar oligopoli, maka pemerintah memberikan kebijakan sebagai berikut :
1.      Memberikan aturan kemudahan bagi perusahaan baru untuk masuk ke dalam pasar dan ikut menciptakan persaingan, seperti masuknya Petronas dan Shell.
2.      Memberlakukan undang-undang anti kerjasama antar produsen, yaitu dengan di berlakukannya UU anti monopoli No. 5 Tahun 1999
Untuk mengawasi persaingan usaha di Indonesia, pemerintah telah membentuk satu badan independen yaitu Komisi Pengawas Persaingan Usaha yang di singkat dengan KPPU. Dengan adanya KPPU di harapkan dampak negative oligopoly dapat di hindari.
. 

    
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Analisis Deskriptif
      3.1.1 Karakteristik Pasar Oligopoli
              Dari pengertian yang dikemukakan di bab sebelumnya dapat di lihat beberapa karakter dari pasar oligopoly yaitu sebagai berikut :
·         Hanya Sedikit Perusahaan Dalam Industri (Few Number of Firms)
Secara teoritis sulit untuk menetapkan berapa jumlah perusahaan di dalam pasar, agar dapat di katakana oligopoly. Namun untuk dasar analisi biasanya jumlah perusahaan diasumsikan kurang dari sepuluh. Dalam kasus tertentu hanya terdapat dua perusahaan (duopoly). Kekuatan perusahaan-perusahaan dalam industry dapat diukur dengan menghitung rasio konsentrasi (concentration ratio). Rasio konsentrasi menghitung beberapa persen output dalam pasar oligopoly di kuasai oleh perusahaan-perusahaan yang dominan (empat sampai dengan delapan perusahaan). Jika rasio konsentrasi empat perusahaan (CR4) adalah 60%, berarti 60% output dalam industri di kuasai oleh empat perusahaan terbesar. CR4 yang semakin kecil mencerminkan struktur pasar y6ang semakin bersaing sempurna. Pasar suatu industri di nyatakan berstruktur oligopolistik apabila CR4 melebihi 40%. Dapat juga diukur delapan perusahaan (CR8) atau jumlah lainnya, jika CR8 80, berarti penjualan output dalam industri dikuasai oleh delapan perusahaan terbesar.
·         Produk Homogen atau Terdifenrensiasi (Homogen or Doferentiated Product)
Dilihat dari sifat output yang di hasilkan, pasar oligopoly merupakan peralihan antara persaingan sempurna dengan monopoli. Perbedaan sifat output yang di hasilkan akan mempengaruhi perilaku perusahaan dalam mencapai kondisi optimal (laba maksimum). Jika dalam pasar persaingan sempurna perusahaan mengatur jumlah output (ouput strategy) untuk meningkatkan laba dalam pasar monopoli hanya satu perusahaan yang mampu mengendalikan harga dan output, maka dalam pasar oligopoly bentuk persaingan antar perusahaan adalah persaingan harga (pricing strategy) dan non harga (non pricing strategy).
Contoh pasar oligopoly yang menghasilkan produk diferensiasi adalah industry mobil, rokok, film, kamera. Sedangkan yang menghasilkan produk homogeny adalah industry baja, paralon, seng dan kertas. Penggolongan ini mempunyai arti penting dalam menganalisis pasar yang oligopolistik, semakin besar tingkat diferensinya perusahaan makin tidak tergantung pada kegiatan perusahaan-perusahaan lainnya. Berarti oligopoly dengan produk diferensiasi dapat lebih mudah memprediksi reakssi-reaksi dari perusahaan-perusahaan lawan. Di luar unsur modal, rintangan untuk masuk ke dalam industry oligopoli yang menghasilkan produk homogeny lebih sedikit, karena pada industri dengan produk diferensiasi sangat berkaitan dengan loyalitas konsumen terhadap produk (merek) tertentu.
·         Pengambilan Keputusan yang saling Mempengaruhi (Interdependence Decisions)
Keputusan dalam menentukan harga dan jumlah output akan mempengaruhi perusahaan dalam menentukan harga dan jumlah output akan mempengaruhi perusahaan lainnya, baik yang sudah ada (existing firmz) maupun yang masih di luar industri. Karenanya guna menahan perusahaan potensial untuk massuk industri perusahaan yang sudah ada menempuh strategi menetapkan harga jual terbata (limiting prices) yang membuat perusahaan menikmati laba super normal di bawah tingkat maksimum.
·         Kompetisi Non Harga (Non Pricing Competition)
Dalam upayanya mencapai kondisi optimal, perusahaan tidak hanya bersaing dalam harga, namu juga non harga. Adapun bentuk-bentuk kompetisi non harga antara lain dapat berupa sebagai berikut :
a.       Pelayanan purna jual serta iklan untuk memberikan informasi
b.      Membentuk citra yang baik terhadap perusahaan dan merek
c.       Mempengaruhi perilaku konsumen.
Keputusan investasi yang akurat di perlukan agar perusahaan dapat berjalan dengan tingkat efisiensi yang sangat tinggi. Tidak tertutup kemungkinan perusahaan melakukan kegiatan intelijen industri untuk memperoleh informasi (mengetahui) keadaan kekuatan dan kelemahan pesaing nyata maupun potensial. Informasi-informasi ini sangat penting agar perusahaan dapat memprediksi reaksi pesaing terhadap setiap keputusan yang diambil.
3.1.2 Model-model Pasar Oligopoli
               Begitu kompleksnya situasi dalam pasar oligopoli, sehingga para ekonom mengembangkan berbagai model untuk mengananlisis perilaku oligopolies. Sayangnya, tidak ada satupun model yang dapat di terima secara umum sebagai model terbaik. Ada beberapa model oligopoli yang di kembangkan para ahli ekonom sebagai berikut :
·         Model Permintaan yang Patah (Kinked Demand Model)
Model ini di kembangkan oleh P.M.Sweezy (1939). Sweezy beranggapan bahwa kalau ada produsen dalam pasar oligopoli yang berusaha menaikkan harga maka ia akan kehilangan langganan karena tak ada produsen lainnya yang bersedia menaikkan harga. Namun sebaliknya, produsen dalam pasar oligopoli tidak dapat memperluas pasar dengan menurunkan harga sebab para pesaing akan menurunkan harga dengan tingkat yang lebih rendah lagi. Akibatnya terjadilah perang harga. Dalam hal ini para produsen dalam pasar oligopoli saling mempengaruhi pasar oligopoli tidak dapat memperluas pasar dengan menurunkan harga sebab para pesaing akan menurunkan harga dengan tingkat yang lebih rendah lagi. Akibatnya terjadilah perang harga. Dalam hal ini para produsen dalam pasar oligopoli saling mempengaruhi, tetapi tidak melakukan kolusi (kesepakatan).
·         Model Cournot (Cournot Model)
Model Cournot yang disebut juga duopoli dikembangkan oleh Augustin Cournot seorang ahli ekonomi berkebangsaan Perancis pada tahun 1838. Asumsi utama dari model ini adalah bahwa jika perusahaan telah menentukan tingkat produksinya,  perusahaan tersebut tidak akan mengubahnya. Atas dasar asumsi inilah perusahaan pesaingnya akan menentukan tingkat produksinya. Dalam pasar duopoli hanya terdapat dua perusahaan yang menjual produk yang homogen, dengan demikian hanya terdapat satu harga pasar. Harga pasar ditentukan oleh keseimbangan antara jumlah total output yang dihasilkan oleh dua perusahaan dengan permintaan pasar.
·         Model Stackelberg (Stackelberg Model)
Dalam model Stackelberg diasumsikan bahwa di pasar terdapat dua perusahaan, satu bertindak sebagai pemimpin (leader firm) dan satu perusahaan berlaku sebagai pengikut (follower). Perusahaan yang bertindak sebagai pemimpin mempunyai kewenangan untuk menentukan jumlah output yang akan dihasilkan untuk memperoleh keuntungan maksimum. Atas dasar jumlah output yang telah ditentukan oleh perusahaan pemimpin ini, perusahaan pengikut akan bereaksi sesuai dengan ketentuan pada model Cournot, yaitu menganggap bahwa perusahaan pemimpin tidak akan mengubah tingkat outputnya.
·         Model Perusahaan Dominan (The Dominant Firm Model)
Model perusahaan dominan adalah pengembangan lebih lanjut dari model Stackelberg. Dalam model ini juga terdapat perusahaan dominan yang bertindak selaku pemimpin dasar serta perusahaan-perusahaan lain sebagai pengikut. Perbedaannya adalah bahwa perusahaan-perusahaan pengikut tidak bereaksi mengikuti model Cournut, melainkan mereka bereaksi seolah-olah mereka berada dalam pasar yang bersaing sempurna. Dengan demikian perusahaan-perusahaan pengikut bertindak sebagai penerima harga (price taker), yaitu akan menerima berapapun harga yang ditetapkan oleh perusahaan pemimpin dan akan menghasilkan output pada kondisi dimana marginal costnya sama dengan tingkat harga.
3.1.3 Jenis-jenis Pasar Oligopoli
Berdasarkan produk yang di perdagangkan, pasar oligopoli dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
·         Pasar Oligopoli Murni (Pure Oligopoly)
Jenis ini merupakan praktek oligopoli dimana barang yang diperdagangkan merupakan barang yang bersifat identik, misalnya praktek oligopoli pada produk air mineral.
·         Pasar Oligopoli dengan Pembedaan (Differentiated Oligopoly)
Pasar ini merupakan suatu bentuk praktek oligopoli dimana barang yang di perdagangkan dapat dibedakan, misalnya pasar sepeda motor di Indonesia yang di kuasai oleh beberapa merek terkenal seperti Honda, Yamaha dan Suzuki.
3.2 Analisi Tabel
3.2.1 Model Permintaan yang Patah
                  Permintaan sangat elastic bila harga di naikan dan  inelastis bila harga di turunkan. Pengaruh cirri yang meonojol dalam motif pasar yang bersifat oligopolistik adalah adanya ketegaran harga. Konsekuensi dari pemikiran tersebut adalah perusahaan menghadapi dua scenario permintaan. Scenario pertama, sebut saja D1 adalah permintaan dengan asumsi pesaing tidak bereaksi terhadap strategi perusahaan. Permintaan ini sangat elastis. Permintaan kedua D2 adalah jika pesaing bereaksi terhadap strategi perusahaan. Permintaan ini inelastic, seperti diagram 1.1 sebagai berikut :
3.2.2 Model Kurnot
                  Dasar p[engembangan ini adalah keseimbangan duopolis tercapai bila biaya marginal adalah 0 (MC=O). dengan pembuktian matematis duopolis ( apabila masing-masing perusahaan tidak saling berinteraksi) akan mencapai keseimbangan bila output masing-masing perusahaan adalah separuh jumlah permintaan pada saat harga P=0,

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN


4.1  Kesimpulan
Dari uraian-uraian di bab sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Pasar Oligopoli dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk pasar yang terdapat beberapa penjual dimana salah satu atau beberapa penjual bertindak sebagai pemilik pasar terbesar ( price leader ). Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh.
2.      Pasar Oligopoli mempunyai kekurangan/keburukan dan kelebihan/kebaikan, ada beberapa cara untuk mengatasi keburukn itu sndiri yaitu memberikan aturan kemudahan bagi perusahaan baru untuk masuk ke dalam pasar dan ikut menciptakan persaingan, seperti masuknya Petronas dan Shell, dan memberlakukan undang-undang anti kerjasama antar produsen, yaitu dengan   diberlakukannya UU anti monopoli No. 5 Tahun 1999.
3.      Pasar Oligopoli mempunyai karakteristik yaitu Suatu produk yang distandarisasikan maupun dibedakan,  kekuatan dari perusahaan-perusahaan dominan terhadap harga, namun ketakutan akan pembalasan, hambatan-hambatan secara teknologi dan ekonomi untuk menjadi suatu perusahaan yang dominan, penggunaan persaingan non harga yang ekstensif akibat ketakutan akan perang harga, dan Pengambilan keputusan yang saling mempengaruhi.

4.2  Saran
Pada kesempatan ini penulis memberikan saran sebagai berikut: Study mengenai dinamika persaingan dalam pasar oligopoli sudah banyak di lakukan. Tingkatkan strategi persaingan dalam pasar oligopoli.
DAFTAR PUSTAKA

Rahardja, Prathama. “Pengantar Ekonomi Mikro”, Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2010.
Tjokroprajitno, Soeheroe. “Mikro Ekonomi edisi 3”, Jakarta : Lembaga Penerbit FEUI, 1993.




2 komentar: